Bersyukur pada hari Sabtu 24 January 2009 TRUST Training Ministry kembali mengadakan training Character Building dengan thema "GOOD CHARACTER" di SMPK Penabur Cikarang. Training ini di berikan atas permintaan para guru, agar siswa-siswinya semakin terbentuk karakternya dan dapat menjadi calon pemimpin yang baik. Training ini diadakan di aula sekolah dan di ikuti oleh 37 siswa yang dengan antusias mendengarkan ceramah yang di berikan. Tingkah pola mereka lucu alias kocak dengan kepolosan seorang anak. Sambil berusaha menahan agar tidak bosan, mereka bertahan serius toh beberapa orang tidak memiliki konsentrasi yang cukup lama, alih-alih ingin mendengar beberapa orang anak merasa terganggu dengan ulah teman mereka yang ribut dan bercanda. Dari awal sulit membuat mereka fokus mendengar dalam jangka waktu lama, namun kami mencoba komunikatif dan kreatif. Untunglah kami para trainer bersikap sabar dan mencoba mensiasati cara agar mereka tika bosan. Maklumlah anak umur 12-13 tahun itu harus mendengar ceramah selama 6 jam dari jan 8am-2pm. Ada 3 sesi yang mereka ikuti dan tiap sesi sekitar 1 jam - 1 1/2 jam, namun jedah antar sesi selalu kami sisipi games dan talent show sekitar 30 menit agar mereka tidak bosan. Puji Tuhan semua merasa puas. Baik guru, siswa dan kami para trainer bersukacita karena Tuhan memberkati kami dengan firmanNya.
Susunan Acara:
08.00 – 08.30 Ice breaking
08.30 – 09.30 Orang kristen yang berkarakter (Character Building)
09.30 – 10.00 Games indoor
10.00 – 10.15 Break
10.15 – 11.30 Pengaruh spiritualitas terhadap pembentukan karakter
(Spiritual Impact for Growing Character)
11.30 – 12.00 Role Play/talent show
12.00 - 12.30 Makan Siang
12.30 - 14.00 Pemimpin yang bertumbuh (Growing Leader)
Training Character Building di SMPK Penabur
KILAS BERITA RETREAT
Tanggal 13-14 september 08 lalu, kami mengadakan training di Vila Giri Kembang Cipanas. Arahnya melewati pasar Cipanas dan melewati istana presiden. Kami (4 tim Trust dan 33 peserta dari PT Indo Kordsa), kumpul di Citeureup kantor mereka baru deh dari sana berangkat ke Cipanas, nyampe jam 10.00 trus istirahat 1/2 jam lalu sesi 1.
Sesi pertama ini, saya bawain tentang "What is Spirituality". Spiritualitas Kristen mengajak kita untuk memiliki karakter Kristus, pikiran Kristus dan hidup Kristus. Ada hal yang bisa di pelajari dari Kristus yakni, self deniel dimana Kristus mengosongkan diri dengan jalan menjadi manusia yang rela menyangkal diri. Kristus juga melakukan self sacrifice, dengan jalan mengorbankan diriNya mati diatas kayu salib.
Sesi kedua dan ketiga saya bawain tentang "how to read bible", topik ini mengingatkan saya waktu mahasiswa dulu yang di ajarin PA dengan melakukan Observasi, Interpretasi dan Aplikasi. Ternyata banyak yang antusias mendengar sesi ini. Dalam sesi ini banyak sekali yang bertanya. Padahal waktunya jam 1 siang loh dimana jam nguantukk bagi para peserta. Ternyata mereka banyak yang tidak pernah baca Alkitab atau saat teduh lagi, ada juga yang dulu rajin saat teduh tapi sudah lama spiritualitasnya kering. Ada yang mengaku dia dari gereja Katolik dan nga pernah tahu bagaimana cara baca Alkitab. Akhirnya saya buat simulasi alias latihan saat teduh dengan membagi mereka dalam kelompok. Mereka saya pecah 6 kelompok. Setelah selesai mereka masuk lagi dalam kelompok besar dan saling berdiskusi. Pada akhirnya mereka sangat menyukai sesi ini dan dalam lembar evaluasi yang kami berikan kepada mereka, mereka merasa waktunya sangat kurang untuk sesi ini. Waktu selesai acara, di meja makan ada yang bergurau: "wah ternyata retreatnya menarik ya", trus ada yang jawab: "makanya lu sih diundang datang retreat dari dulu nga mau ikut, sekarang baru tau kan retreatnya bagus".
Sesi empat di bawakan oleh Pastor tentang "spiritual decline and recovery", yakni tentang naik turunnya kerohanian kita.
Setelah 4 sesi lalu acara refleksi, dimana yang Katolik dan yang Protestan dipisah. Dalam refleksi ada yang berdoa ngaku dosa karena sudah lama tidak melakukan saat teduh, ada juga yang berdoa sudah banyak menyakiti hati keluarganya. Lalu di lanjutkan dengan acara games indoor dan api unggun. Dalam acara ini, semua bersuka ria. Kecerian ini seolah menunjukkan cerianya hati mereka karena spiritualitasnya di bangkitkan dan di baharui. Mereka nga perduli dengan lagu-lagu yang berbau anak-anak atau permainan yang seru yang membuat mereka seperti anak remaja lagi, pokoknya mereka bersukacita, nga pandang atasan dan bawahan rela "dikerjain" trainer dari TRUST Training Ministry". Acara ini di pandu oleh Inta Nugraheni yang berpengalaman memimpin acara seperti ini sewaktu menjadi pembina mahasiswa di PMK Melisia Christi Atmajaya Yogyakarta.
Besok paginya, hari minggu banyak yang bangun terlambat. Bangun diawali dengan sate sendiri-sendiri lalu olah raga. Ada yang berenang, main tenis meja, bilyar, badminton, dll. Setelah olahraga badani, mereka siap di lengkapi lagi dengan olah raga rohani. Kan Paulus mengatakan dalam I Tim 4 latihan badani itu terbatas gunanya tetapi latihan rohani berguna dalam segala hal.
Sesi kelima themanya adalah "Holy Spirit and Spiritual Formation", mengajak peserta untuk menyadari peranan Roh Kudus dalam proses sanctification mereka. Roh Kudus menolong kita untuk hidup dalam kebenaran. Seringkali hidup kita tidak benar dan mengalami kelemahan maka perlu Roh Kudus yang memulihkan kita. Ada 3 hal yang sering di alami manusia dalam kerohaniannya
1. Spiritual Sleepiness (Ngantuk rohani)
2. Spiritual Dehydration (kejenuhan atau kering secara rohani)
3. Spiritual Burn out (kerohanian yang hampir padam)
Ini semua memerlukan makan rohani dan minuman rohani. Firman Tuhan dan doa sangat membantu kita mencegah ketiga hal ini terjadi. Lebih dari itu, kita perlu kuasa dan pertolongan Roh Kudus.
Sesi keenam, adalah mengenal spiritualita yang sejati dan spiritualitas yang palsu. Saya mengajak mereka berpikir apakah semua spiritualitas itu adalah benar? Apakah semua spiritualitas Kristen bersifat Alkitabiah? Saya membandingkan spiritualitas Kristen dengan yang non Kristen, saya juga membandingkan spiritualitas yang di praktekkan oleh gereja-gereja sering berat sebelah menekankan salah satu aspek tapi mengabaikan aspek lainnya seperti hanya menekankan emosi saja atau hanya menekankan rasio/otak saja.
Acara terakhir adalah outbound. Acara ini nga kalah serunya euy. Ada spider web, menangkap balon air di atas kolam renang, dll. Waktu acara ini, ada yang lupa Firman Tuhan. Ada yang demi untuk menang berbuat curang, ada yang menyerah di tengah permainan karena salah strategi waktu main spider web, dan banyak tingkah laku yang lain yang lucu-lucu dan malu-maluin. Acara ini dipandu oleh Sdr. Ranto yang sudah 2 tahun berkecimpung dalam memberikan pelatihan outbound untuk anak-anak dan remaja.
Bersyukur semua peserta menikmati semua acara. Semoga sih spiritualitas mereka bangkit bukan cuma selama dua hari tetapi seterusnya sampai mereka kembali ke dalam dunia kerja mereka dan menjadi garam dan terang Kristus.
Soli Deo Gloria
CAMP & OUTBOUND PROGRAMME
TRUST Training Ministry akan mengadakan camp/retreat untuk karyawan PT Indokordsa. Camp akan diadakan hari sabtu-minggu, 13-14 September 2008 di Vila Andatu, dekat taman safari. Materi camp ini adalah mengenai spiritualitas, yang menggabungkan ceramah (5 sesi) dengan games dan outbound training.
Peserta : 30 orang karyawan PT Indokordsa
Pembicara : Ev.Robin A.Simanjuntak M.Div
Trainer : Inta Nugraheni S.Sos, MPD
Ranto Sianipar S.Pd
Sesion I "What is Spirituality"
Sesion II "False and True Spirituality"
Sesion III "Bible Reading"
Sesion IV "The Holy Spirit & Spiritual Formation" (Ibadah Minggu)
Sesion V "Spiritual Decline & Recovery"
KARTEL TARIF DAN MORAL BISNIS
Oleh : Pdt. Binsar A. Hutabarat, STh.,MCS Rakyat telah cukup banyak menderita dan tak perlu lagi dibebani, sebaliknya usaha untuk meringankan beban dan penderitaan rakyat harus menjadi kepedulian semua, termasuk pengusaha bisnis operator telepon seluler. Keberangan Ketua YLKI sesungguhnya dapat dipahami, ada informasi, produksi SMS tersebut hanya sekitar Rp. 76 per SMS, sedang tarif yang diberlakukan operator rata-rata sebesar Rp. 250 hingga Rp. 350 per SMS, berarti Operator seluler telah merengguk profit 400 persen, sejumlah keuntungan yang sangat besar ditengah-tengah kondisi rakyat yang kebanyakan sulit memenuhi kebutuhan hidupnya, padahal, rakyat sangat membutuhkan sarana informasi layaknya telepon seluler, dan sudah semestinya kehadiran telepon seluler dengan segala kemudahannya, khususnya fasilitas SMS, menjadi sarana yang berguna untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat melalui kemudahan usaha, lebih ironis lagi, keuntungan itu diraih melalui cara yang tidak adil, suatu persekongkolan pengusaha kelas kakap. Timbul pertanyaan, mengapa ketidakadilan bisnis kartel dalam penerapan tarif SMS itu baru terungkap setelah berlangsung lama, dan mengapa tampaknya pemerintah belum mengambil tindakan serius, apakah ada keengganan pemerintah untuk mengintervensinya? Dampak negative ekonomi Pasar. Kritik yang bertubi-tubi terhadap penerapan ekonomi pasar yang dilakukan pemerintah, dan seakan sama sekali tak ada lagi kontrol pemerintah, khususnya terkait dengan problem ketidak adilan, bukan tanpa dasar. Kita tentu paham, pasar bebas mengandung bahaya tertentu, yaitu intoleransi terhadap mereka yang dimarginalisasikan. Mereka yang lemah, miskin, baik materi maupun informasi, akan selalu menjadi objek kerakusan mereka yang kuat, apabila kondisi ini dibiarkan, tentulah yang miskin tetap akan hidup dalam penderitaan dan kemiskinan, tanpa kesempatan untuk merubah nasibnya. Moralitas, yang oleh Adam Smith dianggap sebagai “invisible Hand”, tangan yang tidak kelihatan, yang mengendalikan ekonomi pasar untuk dapat befluktuasi secara adil, terbukti hanyalah impian kosong. Nafsu kerakusan manusia membuat mereka yang kuat sering kali berusaha memanfaatkan seluruh kelebihannya, tanpa peduli dengan nasib si miskin, ada adagium yang mewakili kebenaran tersebut, mereka yang kaya terus bertambah kaya, sedang mereka yang miskin akan tetap berada dalam lembah kemiskinan”, itulah yang terjadi dalam bisnis kartel penetapan tarif SMS jika memang teebukti. Globalisasi yang kini didorong oleh pasar bebas harus diakui menyisakan masalah tersendiri, yaitu telah menciptakan jurang antara Negara kaya dan Negara miskin yang makin melebar, dan itu juga terjadi pada banyak negara, termasuk di Indonesia. Rakyat yang sangat membutuhkan media informasi, khususnya dalam meningkatkan taraf hidupnya, terhambat, karena tingginya biaya yang harus dibayar per SMS, sedang operator SMS yang umumnya adalah pemilik modal, terus bergelimang dengan keuntungan yang makin memperkaya mereka, tidaklah mengherankan jika dalam bisnis ini terus saja bermunculan operator-operator baru, dan tidak juga mengherankan, jika bisnis itu terus merajalela sampai kedaerah-daerah yang tak terjangkau jaringan telepon kabel, memang ada manfaat besar dari kehadiran teleon seluler itu, namun realitas yang menyedihkan adalah, mereka yang dirugikan bukan hanya yang kaya, tetapi khususnya rakyat yang sedang dalam kondisi miskin, di kota-kota besar, telepon celuler juga telah digunakan oleh pedagang kecil, pembantu-pembantu rumah tangga, buruh, tukang ojek, juga para tukang Becak yang memiliki pandapatan amat minim, namun masih harus dihambat komunikasinya dengan tingginya biaya SMS. Problem Ketidakadilan. Ekonomi memang tidak dapat tumbuh jika terus diintervensi Negara begitulah tesis liberalisme yang melahirkan pasar bebas, hal itu ada benarnya, tetapi memiliki keterbatasan, karena tidak semua bidang usaha bisa diambil oleh swasta, orientasi individu dalam berusaha yang semata-mata tertuju pada profit pribadi mengakibatkan bidang-bidang yang tidak menguntungkan, meski dibutuhkan, tidak akan diambil oleh swasta, pemerintah dalam hal ini harus mengambilnya demi memnuhi kebutuhan masyarakat dan untuk membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Di Negara Amerika Serikat yang adalah pendukung utama pasar bebas sekalipun, tidak ada seorang pun pengusaha swasta yang ingin mengambil alih NASA, karena memang tidak menguntungkan, dan pemerintah mesti mengelolanya walau terus merugi. Hal yang perlu diwaspadai adalah Usaha yang berorientasi pada profit itu tidak mustahil akan merampas kebebasan yang lain dalam berusaha. Pemerintah dalam hal ini yang berkewajiban untuk mengusahakan kesejahteraan masyarakat semestinya berperan untuk menciptakan keadilan, KPPU dalam hal ini berkewajiban untuk mendeteksi kecurangan yang ada. Kartel penerapan tarif SMS jika ini benar terjadi, semestinya perlu diambil tindakan agar tidak lagi merugikan masyarakat. Tidaklah mengherankan mengapa Mohammad Hatta menawarkan koperasi, karena itu tidak dimiliki pribadi, usaha dimiliki secara bersama, dalam ekonomi pasar social ini Negara memiliki peran yang jauh lebih besar dibanding ekonomi pasar bebas, yaitu dalam hal pembagian keuntungan, sehingga peristiwa kartel tarif SMS tentu tidak akan terjadi. Pemerintah dalam hal ini terkait ketidak adilan dalam kartel penerapan tarif perlu mengeluarkan regulasi untuk menciptakan keadilan. Moral Bisnis Indonesia Kartel penerapan tarif SMS jika terbukti, merupakan potret kelam bisnis Indonesia. Kita semua tentu setuju, dunia bisnis bukanlah daerah bebas nilai. Apalagi untuk orang Indonesia yang terkenal relegius, bisnis memiliki nilai-nilai etis yang dipengaruhi oleh agama para pelaku bisnis. Mendapatkan keuntungan yang berlimpah dari masyarakat yang berada dalam kondisi miskin, dan mau tak mau harus bergantung pada produk tersebut adalah tindakan yang tidak etis, dan tarif SMS yang jelas-jelas sangat berpengaruh bagi banyak orang untuk meningkatkan usahanya dan untuk menambahkan pendapatannya sudah seharusnya dibuat semurah mungkin, suatu kebutuhan masyarakat umum sudah semestinya dibuat semurah mungkin. Dengan keuntungan kecil namun memiliki pasar yang luas, perusahaan telepon seluler akan tetap eksis, sebaliknya dengan menetapkan tarif yang tinggi peran maksimal telepon seluler tidak akan tercapai, kecuali hanya memenuhi napsu kerakusan untuk mendapatkan profit sebasar-besarnya, kemajuan tekhnologi telepon seluler untuk Indonesia ternyata belum didedikasikan untuk kepentingan orang banyak, ini adalah potret kelam bisnis tanpa moralitas yang harus segera diakhiri. Tekad telkom untuk menurunkan biaya telepon tidak lama lagi patut dicontoh oleh para operator telepon seluler.
Desakan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Huzna Zahir baru-baru ini, agar para operator telepon seluler segera menurunkan tarif Short Message Service (SMS) yang bernuansa bisnis tidak adil dan merugikan konsumen, terkait bisnis kartel dalam penerapan tarif SMS, perlu disikapi serius. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dalam hal ini sudah semestinya merespons penemuan tersebut.
PANGGILAN KERJA KRISTEN 1
Oleh Ev. Robin A. Simanjuntak M.Div
Saat ini jika kita berada di jalan raya maka kita akan melihat iklan suatu surat kabar. Kita melihat iklan yang berbunyi demikian: “Kebenaran itu tidak pernah memihak”. Mungkin kita sempat merenung saat membaca iklan tersebut, setelah itu kita mangut-mangut membenarkannya. Kebenaran itu tidak memihak, jangan-jangan kita juga sudah mempraktekkan itu dalam hidup kita.
Jika kita bekerja sebagai wartawan suatu surat kabar, mengamini slogan itu, maka apa jadinya dengan tulisan kita? Jika kita sebagai orang Kristen tidak memberitakan apa yang benar, lalu apa makna berita yang kita tulis itu? Jika kita sebagai pengacara, bisnisman, profesional Kristen mengatakan kebenaran itu tidak memihak, lalu apa yang kita perjuangkan saat kita bekerja? Apa yang kita lakukan jika ternyata dalam pekerjaan kita banyak hal yang tidak sesuai dengan kebenaran atau melawan kebenaran? Jika demikian sejauh mana kita terpanggil di hadapan Allah untuk bersaksi lewat hidup?
Kita dipanggil untuk menggarap ala mini. Panggilan kerja Kristen sejalan dengan mandat yang Allah berikan kepada kita. Kejadian 1:28 menulis, Allah berfirman kepada manusia: “Beranak cuculah dan bertambah banyak , penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”. Berarti tugas atau mandat yang Allah berikan kepada manusia adalah untuk mengelola alam semesta ini dengan cara merawat, memelihara dan mengekspolarasi alam ini untuk kepentingan manusia dan untuk kemuliaan Allah.
Secara jelas perintah Tuhan dikaitkan dengan tiga hal: penuhi bumi berarti tugas untuk berkembang-biak melahirkan keturunan, menaklukkan bumi berarti mengolah apa yang ada di dalam dunia ciptaan, dan menguasai berarti mengatur sebaik mungkin apa yang sudah di design oleh Allah. Itu artinya, manusialah yang di beri wewenang me-maintance alam semesta dengan seluruh isinya untuk melakukan madat ilahi yakni mandat budaya.
Istilah ini (mandat budaya) secara harfiah menunjuk pada agrikultur yaitu mengelola dan menumbuhkan sesuatu. Akar katanya berasal dari kebudayaan. Kata kerja bahasa latin colere yang berarti kebudayaan. Pengembangan budaya merupakan respon dari panggilan kita kepada Allah. Panggilan kita sebagai orang Kristen adalah melakukan mandat budaya. Apakah itu mandat budaya? Mandat budaya adalah usaha manusia untuk mengekspresikan diri dengan cara mewujudkan kepercayaan dan nilai-nilai yang ada di dalam diri ke dalam bentuk nyata seperti pendidikan, politik, ekonomi, teater, musik dll.
Dosa dan Kegagalan Kita
Sebaliknya, yang terjadi adalah sikap yang over atau reaksi yang berlebihan dari perintah itu. Manusia menguasai ciptaan dengan melihat alam hanya sebagai obyek yang bebas untuk di pakai dan di mamfaatkan. Manusia menaklukkan alam dengan cara mau menang sendiri dan mengalahkan isi alam. Ini semua berawal mula dari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Akibat manusia jatuh ke dalam dosa, manusia gagal menjalankan tugas yang Allah berikan. Setelah kejatuhan, manusia melakukan eksploitasi atas alam, memanipulasi, melakukan tindakan yang bersifat destruktif,dll.
Sebelum berdosa, Adam dan Hawa menikmati ciptaan Tuhan dengan tinggal di taman Eden, setelah kejatuhan keturunannya tidak dapat menikmati alam yang demikian indah. Alih-alih ingin menikmati, justru manusia ingin menguasai bahkan merusak alam. Pada waktu Allah menciptakan dunia ini, Allah mengatakan semua yang di ciptakanNya itu adalah baik. Namun semua yang baik itu telah tercemar oleh dosa. Akibat dosa, tugas panggilan manusia semakin bertambah sulit saja. Manusia harus menebus apa yang sudah rusak ini.
Menebus berarti mengambil kembali hak milik kita yang sudah hilang dan di rampas orang lain. Sebagaimana Kristus datang ke dalam dunia untuk menebus kita dari tangan si jahat dan menjadikan kita anak-anak Allah, maka kita juga di tuntut untuk melakukan tugas penebusan atau tugas penyelamatan atas alam dan dunia sesuai bidang kerja kita. Menyelamatkan alam ini penting kita lakukan, bukan semata agar tetap bisa di pakai dan di nikmati keturunan kita 100 tahun kemudian tetapi lebih kepada membawa alam ini untuk kemuliaan Tuhan.
Panggilan Kita
Panggilan kita adalah melakukan tugas penebusan atas kebudayaan. Sederhananya, kita harus mengambil alih peran orang-orang dunia yang menguasai isi alam; seperti hutan, minyak, kekayaan laut dll. Dalam bidang media, diharapkan ada orang-orang Kristen yang bisa meramu program televisi yang lebih bersifat mendidik dari pada yang bersifat membodohi bahkan meracuni.
Tugas penebusan culture dalam bahasa Agustinus adalah panggilan manusia dalam melakukan transformasi cultural. Transformasi bukan sekedar perubahan bentuk, tetapi menghancurkan dan mengubah yang lama menjadi baru. Richard Niebuhr dalam bukunya Christ and Culture, mengungkapkan ada
Bagi John Calvin, tugas ini adalah tugas yang komprehensif yang menyangkut seluruh bidang kehidupan yang meliputi aspek keluarga, art and science, politik, ekonomi dll. Bidang seni harus di kembalikan dan di peruntukkan bagi Tuhan. Berbagai bidang seni seperti seni pahat, seni lukis, seni musik harus di buat dengan mutu yang baik untuk kemaslahatan umat manusia.
Dalam bidang film, misalnya di harapkan ada banyak orang-orang Kristen yang membuat film-film bermutu yang sesuai dengan nalar, bukan film-film hantu atau cerita sinetron yang hanya mengekploitasi bentuk tubuh wanita. Dalam bidang hukum, ada pengacara Kristen yang siap tampil membela rakyat jelata dan tidak menggunakan segala cara untuk mencapai kemenangan.
Namun ini semua masih jauh dari harapan, kenyataannya di Negara kita film-film yang di produksi masih bersifat hal-hal yang mistik dan tidak masuk akal. Si pembuat film merasa film seperti inilah yang di sukai masyarakat kita, sebaliknya masyarakat merasa mereka tidak di berikan banyak pilihan untuk mengkonsumsi apa yang baik, bermutu dan mendidik. Dalam bidang hukum, justru pengacara yang kebanyakan dari mereka adalah orang Kristen, malah membela pihak yang dapat memberikan keuntungan besar terhadap mereka.
Padahal, jika kita sadar bahwa kita hidup kita bergerak dan kita bekerja karena anugerah Tuhan semata maka kita tidak mungkin bekerja hanya untuk kepentingan diri sendiri. Abraham Kuyper menyebutnya sebagai common grace (anugerah umum) dimana saat kita bekerja itu adalah anugerah Tuhan yang memberikan kesempatan kepada semua orang untuk bekerja sebaik mungkin. Saat kita bekerja kita sedang menghadirkan ke-rajaan Allah (kingship) di bumi lewat iman dan pekerjaan kita. Kritus semestinya di hadirkan sebagai raja dalam segala aspek hidup kita. Kalimat yang terkenal dari Abraham Kuyper adalah dimana tidak ada satu inchipun dalam hidupku dimana Kristus tidak di permuliakan.
Saat ini banyak orang Kristen tidak memahami panggilannya. Banyak orang Kristen yang bekerja dengan rajin dan meraih sukses namun hidup hanya untuk diri sendiri. Banyak pengacara Kristen, guru Kristen, dokter Kristen yang bekerja tidak memahami tujuan mereka bekerja dan berjerih lelah. Bekerja bagi mereka bukanlah bagian ibadah kepada Tuhan. Bahkan, yang lebih gawat, pekerjaaan mereka adalah berhala mereka. Mereka bekerja mencari uang dan menjadikan uang itu sebagai mamon. Sama sekali, mereka tidak mau mencari Tuhan, atau mungkin jika mereka datang ke gereja hanya sekedarnya dan kurang mau melayani Tuhan di gereja. Inipun bentuk dualisme Kristen.
Tidak heran, dalam mempraktekkan kebenaran pun terjadi dualisme. Kebenaran bisa saja tidak berpihak pada yang benar karena berusaha untuk netral. Jika ada masalah, dipecahkan dengan win-win solution. Tapi kita lupa bahwa manusia sudah tidak bisa netral akibat dari dosa. Pilihan manusia selalu berusaha memihak pada satu sisi saja yang bersifat menguntungkan dirinya sendiri. Kebenaran yang kita dukung dan bela adalah kebenaran yang sesuai dengan maunya kita. Keberpihakan kita adalah keberpihakan yang subjektif.
Memang sekalipun kita sudah percaya Tuhan, masih ada unsur subyektif diri, maka dalam membela kebenaran kita bisa salah. Tetapi kebenaran itu sendiri di dalam dirinya tidak bisa dan tidak mungkin bersalah. Kebenaran yang sesungguhnya adalah Allah. Allah menginginkan kita untuk hidup dalam kebenaranNya dan membela apa yang benar.
Seminar
"MENGUNGKAP THE SECRET & NEW AGE MOVEMENT"
Pembicara:
1. Pdt. Binsar Hutabarat, STh. MCS
2. Ev. Parlim Hutabarat, M.Div
3. Ev. Robin A. Simanjuntak, M.Div
Hari/Tanggal:
Rabu, 30 Juli 2008
Waktu:
Pkl. 09.00 - 12.00 WIB
Tempat:
Komplek Duta Permai
Blok E No.6 Bekasi
Jl. Raya Kali Malang (Belakang Superindo Galaksi)
Professional Fellowship on Friday
PERSEKUTUAN OIKOS JUMAT
Setiap hari:
Jumat
Waktu:
Pkl. 12.00 - 13.00 WIB
Tempat:
Club House Apartment
Pavillion Sudirman
Jl. K.H. Mas Mansyur Kav 24 (di sebelah city walk)
